Jakarta, Asher.id – Maskapai penerbangan Sriwijaya Air barangkali akan menuliskan sejarahnya sendiri sebagai maskapai yang menorehkan tahun-tahun tersulit dalam beberapa waktu terakhir.

Usai perceraiannya dengan maskapi pelat merah dengan pangsa terbesar di Tanah Air, Garuda Indonesia, pada 2019, perusahaan penerbangan yang beroperasi sejak 10 November 2003 di Indonesia itu harus terseok untuk bangkit dengan beban kendala berat pada aspek produksi.

Awal tahun 2020, Sriwijaya dibayangi masalah peralatan produksi yang banyak berkurang jauh setelah tak lagi Kerja Sama Manajemem (KSM) dengan Garuda Indonesia Group.

Direktur Utama Sriwijaya Air Jefferson Irwin Jauwena, awal tahun 2020 blak-blakan mencurahkan kondisi perusahaannya yang menanggung banyak sekali kendala, selain dari sisi alat produksi memang mengalami penurunan drastis, sekaligus citra sempat yang merosok akibat perceraian dengan Garuda tersebut.

Perusahaan itu terlihat begitu keras untuk berupaya bangkit dengan segala kendala yang dihadapinya termasuk merumuskan segmen yang lebih spesifik mengincar milenial dan menghindari perang tarif.

Belum selesai dengan itu semua, pandemi COVID-19 menghantam mengharuskan perusahaan itu putar haluan dan mengikatkan tali ikat pinggang dengan lebih kencang.

Pergerakan orang yang sempat dibatasi menjadi kendala tersendiri bagi bisnis transportasi maka Sriwijaya pun tak luput terdampak pandemi.

Kabar baiknya adalah citra Sriwijaya yang terus membaik, menjelma menjadi transportasi terbang alternatif yang tak banyak mendapatkan komplain pelanggan.

Ia bermain pada segmen “medium service airline” dan menjadi “anak baik” dalam dunia penerbangan Indonesia sehingga menjadi maskapai yang berhasil mendapatkan tempat tersendiri di hati masyarakat tanah air.

Sriwijaya Air mulai terlanjur dicintai sampai saat setahun selanjutnya pada 9 Januari 2021 ketika segala sesuatu mestinya berjalan sesuai rencana berubah 360 derajat sebagaimana ketika salah satu pesawatnya SJ 182 menghujam dari ketinggian 10.000 kaki ke perairan sekitar Kepulauan Seribu.

Maka bukan hanya Sriwijaya yang menangis melainkan seluruh bangsa ini yang jatuh dalam rasa duka yang tak terperi.

By redaksi