Jakarta, Asher.ID– Mungkin, beberapa di antara orang muda Batak tak banyak yang kenal almarhum Dr Sopar Panjaitan. Iya, dia sudah lama meninggal, puluhan tahun lalu. Dulu tinggal di Jalan Tegal, Menteng, kawasan elit di Indonesia ini. Sopar adik bungsu dari D.I Panjaitan, pahlawan revolusi. Ia lahir di Lumban Tor, Kabupaten Toba. Di masa sulit, terkenang dengan abang sulungnya D.I Panjaitan membelikan baju natal untuknya. Masa kecil Sopar mengalami banyak penderitaan, ibunya cepat meninggal. Sejak kecil hingga remaja dia dibesarkan keluarga, bukan orangtua, terutama abang-abangnya. Namun penderitaan itu membuatnya menjadi seorang tangguh dan tabah.

Saat akil balig, dia pun harus kehilangan abang yang memberinya cinta dan inspirasi, korban 30 September. Beruntung Sopar melatih hidupnya dengan kesabaran dan iman, termasuk, kemudian dia mendalami teologia kaum awam di GRII, gereja yang didirikan Dr Stephen Tong. Dulunya jemaat HKBP Jalan Jambu, namun lebih aktif di gerakan reformed. Dia tak mau jadi pelayanan, tetapi melayani. Bila ke Kemayoran, Jakarta Pusat, di depan gereja GRII ada loceng gereja besar, itu adalah sumbangannya. Dia datangkan dari Batam, tatkala gereja itu baru dibangun. Saya tahu persis, karena waktu itu beliau suruh saya menulis dan mewawancarai Stephen Tong soal loceng gereja itu.

Krisis 1998 yang diawali kerusuhan, yang kemudian menyusul demo mahasiswa yang melengserkan Soeharto, yang membawa dampak krisis ekonomi yang berkepanjangan. Banyak usaha yang tumbang, dan sempat usahanya yang menghidupi ribuan karyawan itu goyang. Atas situasi itu membuatnya makin mendalami soal-soal spiritualitas, membuatnya mencari gereja. Saat itu, Stephen Tong baru menyewa tempat kebaktian di Gedung Granada, sekarang dikenal Mall Semanggi. Stephen Tong yang membuka cakrawala Sopar, atas hal itulah dia banyak mendukung pelayanan Stephen Tong. Termasuk sering mengadakan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR). Salah satu perannya membantu diadakannya KKR di Pardede Hall di Kota Medan yang dihadiri 5000 orang, mengundang Stephen Tong.

Sebelumnya, Sopar dan KM Sinaga dan St Dr TB Simangunsong, juga dalam rangka KKR membawa semangat itu ke tanah Batak. Tahun 1990, bersama Tim Evangelisasi Nehemia (Toba) hendak mendengungkan kembali semangat Injil di tanah Batak, khususnya Toba. Setibanya di Toba mereka mengadakan KKR, dan disebut cara penginjilan yang sangat berbeda seperti biasanya di HKBP. Penginjilan yang dilakukan kelompok Nahemia ini dilakukan dimana saja, di kebun, di sumur pada saat mandi hingga memberi presepsi berbeda di tengah masyarakat. Misalnya, di daerah Porsea mereka menginjili. Interaksi mereka tanya warga. “Apakah Anda sudah tobat?” Dijawab warga. “Banyak tobat kami.” Di Porsea sendiri yang dimaksud tobat, adalah kolam ikan. Padahal, maksud penginjil (mereka) apakah sudah mengalami lahir baru, sebagaimana interaksi Yesus dengan Nicodemus.

Kabar penginjilan itu kemudian menjadi bahan perbincangan di tanah Batak, khususnya di kalangan HKBP. Oleh Sekjen HKBP yang dijabat Dr. PM Sihombing menanggapinya dengan menulis buku bertajuk Quo Vadis HKBP, hendak kemana HKBP? Dan kemudian menggelar diskusi di Parapat yang dihadiri ratusan pendeta. Ini awal benih kericuhan di HKBP kemudian, yang karena tim penginjil ini disebut-sebut disetujui Dr SAE Nababan, saat itu menjabat ephorus HKBP. Padahal, memang saat itu SAE Nababan di Jakarta, diundang hanya mendoakan tim penginjil ini di Jalan Sawo, Jakarta. Tak ada yang salah. Hanya kemudian penginjilan itu dikaitkan dan disebut juga atas peran ephorus, yang saat itu kurang akur dengan sekjen oleh karena masalah keuangan.

Barangkali ada hubungannya di belakang hari Sopar tak begitu aktif lagi di HKBP. Sopar tentu tak saja hanya mendalami agama Kristen, kecintaannya terhadap budaya Batak juga sangat. Atas alasan itulah dia mendirikan harian umum Batak Pos, harian yang di masanya diperhitungkan. Pernah, setiap pagi di berita pagi televisi nasional membaca headline Batak Pos bersama dengan media seperti Kompas, Republika dan Media Indonesia. Sebagai orang yang pernah menjadi wartawan di Batak Pos, saya merasa salut dengan ide Sopar Panjaitan untuk memboomingkan kebudayaan Batak dengan media. Saat itu banyak penulis yang diberi rubrik khusus, seperti Suhunan Situmorang atau Saut Poltak Tambunan, JP Sitanggang. Tentu masih banyak yang lain penulis penulis di Batak Pos. Waktu itu, oleh Pemimpin Redaksi yang dijabat Raja Parlindungan Pane, menyuruh saya, jika bersangkutan teologia dan budaya Batak saya meliput, atau menulis. Hanya sayang, sepeningalan Sopar, Batak Pos tak dilanjutkan penerbitannya oleh keluarga. Alasan anak anaknya karena koran ini terus merugi dan selalu disubsidi perusahaan besarnya, Pipa Mas Putih.

Kembali ke sosok Sopar. Di masa kecil Yatim Piatu. Pernah nyaris lumpuh. Dulunya hanya gembala kerbau. Tentu, setelah besar dia melatih diri jadi pengusaha dengan mendirikan PT Jasa Neutral. Pernah berbisnis, menyaring minyak dari kotoran, dengan mendirikan PT Atlas Nusantara, mengerjakan order Bulog. Dari sana kemudian mendirikan PT Pipa Mas Putih mengajak seorang jenderal yang tepat butuh tuntunan rohani. Sejak muda memang sudah aktif di kalangan rohaniawan, pernah menjadi bendahara di YPPI, yayasan didirikannya bersama Dr Petrus Oktavianus.

Produknya adalah produk teknologi tinggi untuk pipa minyak di kawasan Arab. Sopar beruntung, karena dampak nama baik abangnya, D.I Panjaitan, usahanya mendapat kemudahan dari pemerintah, waktu itu dari Prof B.J Habibie mengatakan, perusahaan besar yang mencoba usaha teknologi tinggi harus dibantu pemerintah. Terang saja, termasuk dibantu mendapatkan order. Pipa Mas Putih pabriknya di Pulau Batam, tetapi kantor pusat di Jakarta. Didirikan 17 Desember 1985. Saat peresmiannya pun diliput TVRI, termasuk koran dan majalah nasional waktu itu.

Sampai tua, sebelum meninggal, dia tetap banyak gagasan dan pemikiran tentang gereja dan budaya Batak. Dia sosok Batak, pekerja keras, ulet dan tahan banting. Dia tergolong pengusaha nasional, yang sangat peduli dengan gereja dan sukunya, Batak. Hanya saya anak-anaknya tak bisa mengikuti. Tak hanya mendirikan Harian Umum Batak Pos, dia juga sempat mendirikan STT di Lumban Tor di kampungnya. Didirikan di masa Dr Poltak Siahaan jadi Dirjen Bimas Kristen.

Maka, jika ditanyakan, siapa tokoh Batak yang berjasa, maka jawaban saya, salah satu sosok Batak yang pernah berbuat untuk kemajuan Batak adalah Dr. Sopar Panjaitan. Dia sosok yang pantas dikenang dan patut didalami sosoknya. Salah satu buku ini, menulis tentang dirinya. Dia memang sosok yang unik, untuk biografi sendiri pun maunya ditulis secara fiksi, dan tak mau ditulis penulis orang Batak. Jadilah buku ini ditulis Nazaruddin, orang yang berkutat sebagai skenario di Sinetron. Saya banyak kenal pengusaha Batak, bukan sebab pernah bos saya, Dr. Sopar Panjaitan adalah pengusaha yang baik, yang berusaha meninggalkan warisan bagi banyak orang, terutama untuk orang Batak.

(Hojot Marluga/Forum Jurnalis Batak)

By redaksi