Armenia, Asher.id – Badan Keamanan Nasional (NSS) Armenia melaporkan berhasil menggagalkan upaya pembunuhan terhadap Perdana Menteri Nikol Pashinyan dan perebutan kekuasaan oleh sekelompok mantan pejabat. Insiden itu terjadi pascakesepakatan damai dengan Azerbaijan.

PM Pashinyan berada di bawah tekanan ribuan demonstran yang menggelar aksi unjuk rasa pascapenandatanganan kesepakatan damai dengan Azerbaijan dalam konflik Nagorno-Karakabh awal pekan kemari. Langkah Pashinyan disebut sebagai bentuk pengkhianatan, demonstran mendesaknya segera mundur dari jabatan perdana menteri.

Tak sampai disitu, Pashinyan juga menjadi target operasi pembunuhan dalam upaya merebut pemerintahan Armenia secar inkonstitusional. NSS mengonfirmasi berhasil menggagalkan rencana tersebut dengan menangkap Artur Vanetsyan–mantan ketua fraksi parlemen Partai Republik Vahram Baghdasaryan–dan sukarelawan perang Ashot Minasyan.

“Para tersangka berencana secara ilegal merebut kekuasaan dengan membunuh perdana menteri dan telah menyiapkan calon pengganti potensial,” kata NSS dalam pernyataan yang dikutip dari Reuters, Sabtu (15/11/2020).

Pashinyan tak punya pilihan selain berdamai dengan Azerbaijan

Pashinyan mengatakan awal pekan ini dia tidak punya pilihan selain menandatangani perjanjian untuk mencegah kerugian teritorial lebih lanjut. Dia mengatakan bertanggung jawab secara pribadi atas langkah tersebut, namun menolak seruan untuk mundur.

Kesepakatan gencatan senjata menyeluruh antara Armenia dan Azerbaijan menghentikan perang terbaru antara dua negara pecahan Uni Soviet yang telah berlangsung sejak 27 September lalu. Armenia mengklaim lebih dari 2.000 orang tewas selama enam pekan pertempuran di Nagorno-Karabakh, sedangkan Azerbaijan menolak merilis kerugian dari pihaknya.

Berdasarkan kesepakatan terbaru, sebanyak 2.000 tentara penjaga perdamaian Rusia dikerahkan ke wilayah tersebut. Kesepakatan tersebut juga melibatkan Turki–yang merupakan pendukung Azerbaijan selama perang dengan separtis Armenia berkecamuk.

Wilayah Nagorno-Karabakh di Kaukasus diakui internasional masuk dalam teritori Azerbaijan, namun sejak awal 1990-an etnis Armenia memegang kendali militer atas seluruh Nagorno Karabakh dan sebagian wilayah Azerbaijan di sekitarnya.

Pascaperang terbaru, Armenia telah kehilangan sebagian besar daerah kantong itu sendiri serta wilayah sekitarnya. PM Armenia Jadi Sasaran Pembunuhan Usai Sepakati Perdamaian dengan Azerbaijan

By redaksi